Arti penting sebuah nasehat ialah untuk memberitahukan dan mengingatkan. Memberitahukan jikalau ia belum tahu dan paham, dan mengingatkan jikalau ia sudah tahu namun lupa atau lalai sehingga bisa untuk melaksanakan. Inilah pentingnya nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran sebagaimana dalam Al Alquran Surah Al Ashr ayat 3. Dan tentu nasehat pernikahan ialah sesuatu yang sangat berharga untuk selalu dinasehatkan biar kerukunan dalam rumah tangga terjaga, terbangun rumah tangga harmonis, dan tujuan pernikahan yang senang di dunia dan bersama di alam abadi dalam digapai.
Kita ketahui perahu rumah tangga mempunyai kendala dan tantangan. Terkadang ada ombak yang menghiasi perjalanan itu. Namun, urungkah niat kita untuk berlayar mengarungi kehidupan rumah tangga itu? Maka nasehat pernikahan bijak mesti menjadi hal yang menguatkan biduk keluarga Islami. Nah berikut nasehat pernikahan Islami dalam mengarungi perahu rumah tangga.
1. Pasangan Adalah Tanda Kebesaran Allah SWT
Kita ketahui perahu rumah tangga mempunyai kendala dan tantangan. Terkadang ada ombak yang menghiasi perjalanan itu. Namun, urungkah niat kita untuk berlayar mengarungi kehidupan rumah tangga itu? Maka nasehat pernikahan bijak mesti menjadi hal yang menguatkan biduk keluarga Islami. Nah berikut nasehat pernikahan Islami dalam mengarungi perahu rumah tangga.
![]() |
| Nasehat pernikahan akan menguatkan pasangan satu sama lain |
Selama ini ayat yang kita ketahui hanya di dalam alquran. Namun ternyata ada ayat yang tak berhuruf dialah pasangan kita sebagaimana dalam surat Ar Rum ayat 21 berikut ini yang artinya:
"Dan di antara gejala kekuasaan-Nya ialah Dia membuat untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kau cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat gejala bagi kaum yang berfikir."
"Dan di antara gejala kekuasaan-Nya ialah Dia membuat untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kau cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat gejala bagi kaum yang berfikir."
Ada beberapa tafsiran terhadap surah Ar Rum ayat 21 sebagaimana kami ambil dari situs tafsirq menurut versi tafsir Jalalayn:
Dan di antara gejala kekuasaan-Nya ialah Dia membuat untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri) Siti Hawa tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam sedangkan insan yang lainnya tercipta dari air mani laki-laki dan perempuan (supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya) supaya kalian merasa betah dengannya (dan dijadikan-Nya di antara kau sekalian) semuanya (rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu) hal yang telah disebutkan itu (benar-benar terdapat gejala bagi kaum yang berpikir) yakni yang memikirkan wacana ciptaan Allah swt.
Dan di antara gejala kekuasaan-Nya ialah Dia membuat untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri) Siti Hawa tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam sedangkan insan yang lainnya tercipta dari air mani laki-laki dan perempuan (supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya) supaya kalian merasa betah dengannya (dan dijadikan-Nya di antara kau sekalian) semuanya (rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu) hal yang telah disebutkan itu (benar-benar terdapat gejala bagi kaum yang berpikir) yakni yang memikirkan wacana ciptaan Allah swt.
Jika suami mengganggap istrinya ayat Allah, maka tidak akan suami yang menginjak istri. Karena beliau paham bahwa pasangannya ialah ayat-ayat Allah. Yang menyebut demikian ialah Allah Maka renungkan, ketika hati murka maka pikirkan hal ini; yang serumah dengan saya ini ialah ayat Allah, yang melayani saya selama ini ialah ayat Allah, dan seterusnya.
2. Pasangan untuk Mendatangkan Sakinah, Mawaddah dan Rahma
Sebelum menikah, gemuruh di dalam dada tidak tahu dimana dilepaskan. Ibarat sebuah perahu tidak tahu dimana ditambatkan.
Maka diciptakan pasangan untuk menenangkan hati. Saat sebelum menikah, seorang laki-laki gampang untuk cemas dan galau, sesudah menikah maka akan gampang baginya untuk menemukan ketenangan dari pasangannya. Pun begitu sebaliknya dengan wanita, secara psikis perempuan juga ada kegelisahan di dalam hatinya.
Namun disaat mereka bersama, maka hilanglah sesuatu yang menjanggal di dalam hati itu. Oleh Allah SWT dengan syariat Islam di-halalkan dengan jalan pernikahan. Hal ini dimaksudkan biar cinta itu ditempatkan pada daerah yang baik maka menjadi ibadah kepada Allah SWT.
Lain halnya jikalau seseorang mencari ketenangan pada seuatu yang tidak boleh oleh Allah, contohnya mencari kesenangan di diskotik. Maka hal ini bagai mencari pemuas dahaga disaat haus dengan meminum air laut. Bukan kepuasan yang ia rasakan, malah sebaliknya rasa haus yang terus bertambah dan bertambah.
Selain ketenangan, pernikahan juga akan mendatangkan mawaddah dan rahmah.
Asam di gunung, garam di maritim bersua juga di belanga. Pernikahan mengatakan dua makhluk yang berbeda, cara pandang yang berbeda. Maka mereka direkatkan dengan mawaddah dan rahmah.
Mawaddah ialah mencari kelebihan. Dulu sebelum menikah, seorang laki-laki dan perempuan mencari kelebihan dari lawan jenisnya. Entah itu yang lebih putih, lebih manis atau lebih tampan. Inilah maksud dari mawaddah itu, mencari kelebihan dari pasangan.
Kita ketahui bahwa sebelum menikah, semisal dalam tata cara melamar perempuan ada ajuan untuk melihat wajah dan tapak tangan perempuan sebelum tetapkan untuk menikah. Kalau tapak tangan garang maka kemungkinan beliau budak, maka itu artinya pada awal pernikahan seseorang akan melihat fisik.
Namun selanjutnya, Allah akan karuniakan kepada mereka rahmah. Rahmah itu artinya menutupi kelemahan.
Suami yang baik ialah suami yang menutupi kelemahan. Pernikahan bukan semata tidak memperhatikan fisik. Pada awalnya memang melihat fisik, namun lambat laun seiring bertambahnya usia pernikahan. Bukan lagi ukuran kelebihan fisik yang merekatkan. Namun rahmah (kasih sayang) yang akan berperan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.
3. Menikah, Jangan Semata Memandang alasannya ialah Fisiknya
Adalah hal yang normal, jikalau ketika pertama melihat seseorang, ia menjadi kagum alasannya ialah fisik yang dilihatnya. Maka nasehat pernikahan Islam untuk suami salah satunya yang perlu diperhatikan ialah jangan jadikan faktor fisik sebagai patokan utama.
Di dalam hadits disampaikan bahwa hendaknya dipilih perempuan alasannya ialah kebaikan agamanya.
"Wanita biasanya dinikahi alasannya ialah empat hal: alasannya ialah hartanya, alasannya ialah kedudukannya, alasannya ialah parasnya dan alasannya ialah agamanya. Maka hendaklah kau pilih perempuan yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, pasti kau akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Dan dalam hadits yang lain disebutkan lebih spesifik.
”Tidak ada keberuntungan bagi seorang mukmin sesudah bertaqwa kepada Alloh kecuali mempunyai seorang istri yang sholihah. Yang bila disuruh, berdasarkan dan bila di pandang menyenangkan, dan bila janji menepati, dan bila ditinggal pergi bisa menjaga diri dan harta suaminya.” (HR. Ibnu Majah)
Maka pandanglah perempuan dari sesuatu yang tidak membuat laki-laki menjadi bosan. Yakni pandanglah alasannya ialah kebaikan imannya.
4. Menikah Menyempurnakan Setengah Iman
Sejak sesudah komitmen pernikahan, maka imannya kedua pasangan menjadi lengkap. Iman seseorang dikatakan tak tepat sebelum menikah. Setakwa-takwanya cowok tapi belum menikah maka imannya belum lengkap. Maka saling menjaga satu sama lain akan menggenapkan keimanan. Istri menjaga kepercayaan suami, pun begitu sebaliknya suami berusaha menjaga dan menyempurnakan kepercayaan istrinya.
Hadits baginda Rasulullah Muhammad SAW berikut wacana keutamaan wanita muslimah yang bisa menolong suaminya menyempurnakan agamanya.
"Siapa yang diberi karunia oleh Allah seorang istri yang sholihah, berarti Allah telah menolongnya untuk menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu, bertaqwalah kepada Allah setengah sisanya." (HR. Baihaqi 1916)
Terkait dengan hadits di atas, juga dijelaskan lebih jauh dalam kitab Ihya Ulumiddin karangan Imam Al Ghazali:
“Siapa yang menikah, berarti telah melindungi setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah agamanya yang kedua.” Ini merupakan aba-aba wacana keutamaan nikah, yaitu dalam rangka mlindungi diri dari penyimpangan, biar terhinndar dari kerusakan. Karena yang merusak agama insan umumnya ialah kemaluannya dan perutnya. Dengan menikah, maka salah satu telah terpenuhi". (Ihya Ulumiddin, 2/22)
Di dalam Alquran, insan diseru untuk selalu tolong menolong dalam kebaikan. Pasangan yang baik ialah pasangan yang berusaha menolong pasangannya untuk menuju kepada kebaikan.
Saling tolong menolong berarti saling menyempurnakan keimanan. Kadang suami atau istri tidak melaksanakan ibadah, bukan alasan alasannya ialah lupa tapi alasannya ialah lalai. Maka insan tempatnya salah dan lupa. Inilah keutamaan pasangan yang baik dalam kondisi mirip ini alasannya ialah ia akan saling mengingatkan.
5. Wanita ialah Makhluk Diciptakan dari Tulang Rusuk
Kita ketahui bahwa perempuan (Hawa) ialah makhluk yang diciptakan Allah dari tulang rusuk suami (Adam). Maka dalam nasehat pernikahan dalam Islam selanjutnya ialah ajuan untuk berbuat baik kepada wanita.
“Berbuat oke kepada wanita, alasannya ialah gotong royong mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan gotong royong tulang rusuk yang paling bengkok ialah yang paling atas.Maka sikapilah para perempuan dengan baik.” (HR al-Bukhari Kitab an-Nikah no 5186)
Sahabat, tulang rusuk ialah tulang yang salah satu fungsinya ialah melindungi jantung. Maka istri dihadirkan untuk bisa menjaga suaminya.
Namun, juga harus diketahui bahwa tulang rusuk ialah tulang yang paling bengkok. Bentuknya melengkung. Maka kalau ia dipaksa lurus maka bisa saja akan patah. Celakanya, jikalau seorang suami mengikuti tulang itu maka akan gampang baginya untuk bengkok.
Maka pandai-pandailah seorang suami biar tulang itu (istri) tidak patah atau bengkok. Seorang suami hendaknya rajin bertanya dan mendengar pesan yang tersirat dari orang-orang yang telah berhasil melangsungkan pernikahan selama puluhan tahun.
Salah satu teladan sikap suami yang mengikuti yang bengkok itu ialah berusaha menuruti semua kemauan istri terhadap dunia sehingga ia tidak segan-segan mengambil uang haram hanya gara-gara mengikuti kemauan istri yang bengkok.
Seorang suami harus menjadi pribadi yang lembut untuk membimbing istrinya. Karena istri tang baik agamanya alasannya ialah bimbingan suaminya akan menjadi pakaian yang baik baginya.
Kita tahu fungsi pakaian ialah menutupi. Maka pakaian yang baik (istri shalihah) akan menutupi menutupi dirinya, menjadi suplemen (kebanggaan) serta menutupi cacat pasangannya. Sehingga antara beliau dan istrinya menjadi nafsil wahida, sediri antara suami dan istri,
6. Menikah ialah Tanggung Jawab yang Besar
Nasehat pernikahan Islam yang juga patut untuk selalu diingat dan direnungi ialah pernikahan ialah sebuah tanggung jawab yang besar.
Tanggung jawab apa itu? Yakni tanggung jawab seorang suami untuk menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Alquran yang artinya:
"Wahai orang-orang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Qs. At-Tahrim ayat 6).
Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, makna “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, ialah lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah.
Jika suami bisa untuk melaksanakan itu, maka dengannya Allah ingin selamatkan pasangan suami istri dari api neraka.
Jika ketika adzan berkumdandang, maka seorang suami harus mengingatkan istri untuk bergegas melaksanakan shalat. Pun begitu ketika suami bangkit untuk shalat malam, maka ia pun harus membangunkan istrinya untuk beribadah. Karena ini menjadi salah satu jalan untuk mendapat rahmat (kasing sayang) dari Allah.
“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangkit di waktu malam kemudian shalat dan ia pun membangunkan istrinya kemudian sang istri juga shalat. Bila istri tidak mau bangun, ia percikkan air ke wajahnya. Semoga Allah juga merahmati seorang perempuan yang bangkit di waktu malam kemudian ia shalat dan ia pun membangunkan suaminya. Bila suami enggan untuk bangun, ia pun memercikkan air ke wajahnya.” (HR. An Nasa’i. Hadits senada juga diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi)
Sejak sesudah komitmen nikah, maka seorang suami tidak sendiri lagi. Istri menjadi ukuran keimanan suami. Maka seorang suami tidak boleh membiarkan istri dan keluarganya berbuat maksiat. Karena jikalau membiarkan, maka si suami termasuk dayyuts yang diancam oleh Allah SWT.
“Ada tiga golongan insan yang tidak akan dilihat oleh Allah (dengan pandangan kasih sayang) pada hari selesai zaman nanti, yaitu: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang ibarat laki-laki, dan ad-dayyuts…” (HR. An-Nasa-i, no. 2562, Ahmad, 2/134)
Contoh perbuatan dayyuts suami ialah membiarkan istrinya membuka aurat di depan umum atau kepada orang yang bukan mahramnya.
Seorang suami juga tidak boleh semena-mena kepada istinya. Ia harus paham akan hak dan kewajiban yang dimilikinya. Suami punya kewajiban maka itu ialah hak istri.
Adapun kewajiban suami diantaranya memenuhi kebutuhan makan, pakaian, daerah tinggal, pendidikan (bimbingan) dan perhatian.
Maka suami harus berusaha senantiasa mendidik dan membimbing istrinya. Dan jikalau suami belum punya kesempatan untuk mendidik istrinya, maka antar ke tempat-tempat pengajian, misalnya.
7. Amal yang Tidak Putus: Anak yang Shalih
Nasehat pernikahan selanjutnya yang perlu diingat ialah bahwa pernikahan bertujuan untuk mendapat anak keturunan. Buah pernikahan yang sangat berharga bagi kedua orang renta ialah anak yang shalih.
Anak yang shalih merupakan salah satu dari tiga amal yang tidak pernah putus walau orang tersebut telah meninggal dunia. Anak yang shalih-shalihah pasti akan selalu mendoakan kedua orang tuanya.
Menarik Lainnya: 15 Cara Mendidik Anak Laki-Laki dengan Bijak
Hadits baginda Rasulullah Muhammad SAW wacana tiga amalan yang tidak pernah putus, salah satunya ialah anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya berikut ini:
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
Menikah bukan tujuan, tapi ialah sebuah jalan. Yang diinginkan dan yang menjadi tujuan ialah ridha Allah.
Maka katakan pada pasangan anda, "Sudikan engkau berjalan bersamaku di dunia ini untuk mendapat ridha Allah?"
Hal ini alasannya ialah banyaknya pasangan yang salah kaprah, sehingga memahami bahwa menikah ialah tujuan. Inilah ialah pemahaman yang salah sehingga bisa rentang dengan perpisahan, cerai jikalau menganggap pernikahan adakah tujuan.
Padahal tujuan gotong royong dari pernikahan ialah mendapat ridha Allah dan melahirkan keturunan yang shalih-shalihah.
Baca juga: 8 Butir Nasehat Pernikahan Alm Uje (Ustadz Jefri Al Buchori)
Demikianlah nasehat pernikahan yang kami uraikan dalam 7 poin yakni:
Semoga bermanfaat bagi kita semua untuk senantiasa saling mengingatkan satu sama lain.
2. Pasangan untuk Mendatangkan Sakinah, Mawaddah dan Rahma
Sebelum menikah, gemuruh di dalam dada tidak tahu dimana dilepaskan. Ibarat sebuah perahu tidak tahu dimana ditambatkan.
Maka diciptakan pasangan untuk menenangkan hati. Saat sebelum menikah, seorang laki-laki gampang untuk cemas dan galau, sesudah menikah maka akan gampang baginya untuk menemukan ketenangan dari pasangannya. Pun begitu sebaliknya dengan wanita, secara psikis perempuan juga ada kegelisahan di dalam hatinya.
Namun disaat mereka bersama, maka hilanglah sesuatu yang menjanggal di dalam hati itu. Oleh Allah SWT dengan syariat Islam di-halalkan dengan jalan pernikahan. Hal ini dimaksudkan biar cinta itu ditempatkan pada daerah yang baik maka menjadi ibadah kepada Allah SWT.
Lain halnya jikalau seseorang mencari ketenangan pada seuatu yang tidak boleh oleh Allah, contohnya mencari kesenangan di diskotik. Maka hal ini bagai mencari pemuas dahaga disaat haus dengan meminum air laut. Bukan kepuasan yang ia rasakan, malah sebaliknya rasa haus yang terus bertambah dan bertambah.
Selain ketenangan, pernikahan juga akan mendatangkan mawaddah dan rahmah.
Asam di gunung, garam di maritim bersua juga di belanga. Pernikahan mengatakan dua makhluk yang berbeda, cara pandang yang berbeda. Maka mereka direkatkan dengan mawaddah dan rahmah.
Mawaddah ialah mencari kelebihan. Dulu sebelum menikah, seorang laki-laki dan perempuan mencari kelebihan dari lawan jenisnya. Entah itu yang lebih putih, lebih manis atau lebih tampan. Inilah maksud dari mawaddah itu, mencari kelebihan dari pasangan.
Kita ketahui bahwa sebelum menikah, semisal dalam tata cara melamar perempuan ada ajuan untuk melihat wajah dan tapak tangan perempuan sebelum tetapkan untuk menikah. Kalau tapak tangan garang maka kemungkinan beliau budak, maka itu artinya pada awal pernikahan seseorang akan melihat fisik.
Namun selanjutnya, Allah akan karuniakan kepada mereka rahmah. Rahmah itu artinya menutupi kelemahan.
Suami yang baik ialah suami yang menutupi kelemahan. Pernikahan bukan semata tidak memperhatikan fisik. Pada awalnya memang melihat fisik, namun lambat laun seiring bertambahnya usia pernikahan. Bukan lagi ukuran kelebihan fisik yang merekatkan. Namun rahmah (kasih sayang) yang akan berperan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.
3. Menikah, Jangan Semata Memandang alasannya ialah Fisiknya
Adalah hal yang normal, jikalau ketika pertama melihat seseorang, ia menjadi kagum alasannya ialah fisik yang dilihatnya. Maka nasehat pernikahan Islam untuk suami salah satunya yang perlu diperhatikan ialah jangan jadikan faktor fisik sebagai patokan utama.
Di dalam hadits disampaikan bahwa hendaknya dipilih perempuan alasannya ialah kebaikan agamanya.
"Wanita biasanya dinikahi alasannya ialah empat hal: alasannya ialah hartanya, alasannya ialah kedudukannya, alasannya ialah parasnya dan alasannya ialah agamanya. Maka hendaklah kau pilih perempuan yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, pasti kau akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Dan dalam hadits yang lain disebutkan lebih spesifik.
”Tidak ada keberuntungan bagi seorang mukmin sesudah bertaqwa kepada Alloh kecuali mempunyai seorang istri yang sholihah. Yang bila disuruh, berdasarkan dan bila di pandang menyenangkan, dan bila janji menepati, dan bila ditinggal pergi bisa menjaga diri dan harta suaminya.” (HR. Ibnu Majah)
Maka pandanglah perempuan dari sesuatu yang tidak membuat laki-laki menjadi bosan. Yakni pandanglah alasannya ialah kebaikan imannya.
4. Menikah Menyempurnakan Setengah Iman
Sejak sesudah komitmen pernikahan, maka imannya kedua pasangan menjadi lengkap. Iman seseorang dikatakan tak tepat sebelum menikah. Setakwa-takwanya cowok tapi belum menikah maka imannya belum lengkap. Maka saling menjaga satu sama lain akan menggenapkan keimanan. Istri menjaga kepercayaan suami, pun begitu sebaliknya suami berusaha menjaga dan menyempurnakan kepercayaan istrinya.
Hadits baginda Rasulullah Muhammad SAW berikut wacana keutamaan wanita muslimah yang bisa menolong suaminya menyempurnakan agamanya.
"Siapa yang diberi karunia oleh Allah seorang istri yang sholihah, berarti Allah telah menolongnya untuk menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu, bertaqwalah kepada Allah setengah sisanya." (HR. Baihaqi 1916)
Terkait dengan hadits di atas, juga dijelaskan lebih jauh dalam kitab Ihya Ulumiddin karangan Imam Al Ghazali:
“Siapa yang menikah, berarti telah melindungi setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah agamanya yang kedua.” Ini merupakan aba-aba wacana keutamaan nikah, yaitu dalam rangka mlindungi diri dari penyimpangan, biar terhinndar dari kerusakan. Karena yang merusak agama insan umumnya ialah kemaluannya dan perutnya. Dengan menikah, maka salah satu telah terpenuhi". (Ihya Ulumiddin, 2/22)
Di dalam Alquran, insan diseru untuk selalu tolong menolong dalam kebaikan. Pasangan yang baik ialah pasangan yang berusaha menolong pasangannya untuk menuju kepada kebaikan.
Saling tolong menolong berarti saling menyempurnakan keimanan. Kadang suami atau istri tidak melaksanakan ibadah, bukan alasan alasannya ialah lupa tapi alasannya ialah lalai. Maka insan tempatnya salah dan lupa. Inilah keutamaan pasangan yang baik dalam kondisi mirip ini alasannya ialah ia akan saling mengingatkan.
5. Wanita ialah Makhluk Diciptakan dari Tulang Rusuk
Kita ketahui bahwa perempuan (Hawa) ialah makhluk yang diciptakan Allah dari tulang rusuk suami (Adam). Maka dalam nasehat pernikahan dalam Islam selanjutnya ialah ajuan untuk berbuat baik kepada wanita.
“Berbuat oke kepada wanita, alasannya ialah gotong royong mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan gotong royong tulang rusuk yang paling bengkok ialah yang paling atas.Maka sikapilah para perempuan dengan baik.” (HR al-Bukhari Kitab an-Nikah no 5186)
Sahabat, tulang rusuk ialah tulang yang salah satu fungsinya ialah melindungi jantung. Maka istri dihadirkan untuk bisa menjaga suaminya.
Namun, juga harus diketahui bahwa tulang rusuk ialah tulang yang paling bengkok. Bentuknya melengkung. Maka kalau ia dipaksa lurus maka bisa saja akan patah. Celakanya, jikalau seorang suami mengikuti tulang itu maka akan gampang baginya untuk bengkok.
Maka pandai-pandailah seorang suami biar tulang itu (istri) tidak patah atau bengkok. Seorang suami hendaknya rajin bertanya dan mendengar pesan yang tersirat dari orang-orang yang telah berhasil melangsungkan pernikahan selama puluhan tahun.
Salah satu teladan sikap suami yang mengikuti yang bengkok itu ialah berusaha menuruti semua kemauan istri terhadap dunia sehingga ia tidak segan-segan mengambil uang haram hanya gara-gara mengikuti kemauan istri yang bengkok.
Seorang suami harus menjadi pribadi yang lembut untuk membimbing istrinya. Karena istri tang baik agamanya alasannya ialah bimbingan suaminya akan menjadi pakaian yang baik baginya.
Kita tahu fungsi pakaian ialah menutupi. Maka pakaian yang baik (istri shalihah) akan menutupi menutupi dirinya, menjadi suplemen (kebanggaan) serta menutupi cacat pasangannya. Sehingga antara beliau dan istrinya menjadi nafsil wahida, sediri antara suami dan istri,
6. Menikah ialah Tanggung Jawab yang Besar
Nasehat pernikahan Islam yang juga patut untuk selalu diingat dan direnungi ialah pernikahan ialah sebuah tanggung jawab yang besar.
Tanggung jawab apa itu? Yakni tanggung jawab seorang suami untuk menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Alquran yang artinya:
"Wahai orang-orang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Qs. At-Tahrim ayat 6).
Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, makna “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, ialah lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah.
Jika suami bisa untuk melaksanakan itu, maka dengannya Allah ingin selamatkan pasangan suami istri dari api neraka.
Jika ketika adzan berkumdandang, maka seorang suami harus mengingatkan istri untuk bergegas melaksanakan shalat. Pun begitu ketika suami bangkit untuk shalat malam, maka ia pun harus membangunkan istrinya untuk beribadah. Karena ini menjadi salah satu jalan untuk mendapat rahmat (kasing sayang) dari Allah.
“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangkit di waktu malam kemudian shalat dan ia pun membangunkan istrinya kemudian sang istri juga shalat. Bila istri tidak mau bangun, ia percikkan air ke wajahnya. Semoga Allah juga merahmati seorang perempuan yang bangkit di waktu malam kemudian ia shalat dan ia pun membangunkan suaminya. Bila suami enggan untuk bangun, ia pun memercikkan air ke wajahnya.” (HR. An Nasa’i. Hadits senada juga diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi)
Sejak sesudah komitmen nikah, maka seorang suami tidak sendiri lagi. Istri menjadi ukuran keimanan suami. Maka seorang suami tidak boleh membiarkan istri dan keluarganya berbuat maksiat. Karena jikalau membiarkan, maka si suami termasuk dayyuts yang diancam oleh Allah SWT.
“Ada tiga golongan insan yang tidak akan dilihat oleh Allah (dengan pandangan kasih sayang) pada hari selesai zaman nanti, yaitu: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang ibarat laki-laki, dan ad-dayyuts…” (HR. An-Nasa-i, no. 2562, Ahmad, 2/134)
Contoh perbuatan dayyuts suami ialah membiarkan istrinya membuka aurat di depan umum atau kepada orang yang bukan mahramnya.
Seorang suami juga tidak boleh semena-mena kepada istinya. Ia harus paham akan hak dan kewajiban yang dimilikinya. Suami punya kewajiban maka itu ialah hak istri.
Adapun kewajiban suami diantaranya memenuhi kebutuhan makan, pakaian, daerah tinggal, pendidikan (bimbingan) dan perhatian.
Maka suami harus berusaha senantiasa mendidik dan membimbing istrinya. Dan jikalau suami belum punya kesempatan untuk mendidik istrinya, maka antar ke tempat-tempat pengajian, misalnya.
7. Amal yang Tidak Putus: Anak yang Shalih
Nasehat pernikahan selanjutnya yang perlu diingat ialah bahwa pernikahan bertujuan untuk mendapat anak keturunan. Buah pernikahan yang sangat berharga bagi kedua orang renta ialah anak yang shalih.
Anak yang shalih merupakan salah satu dari tiga amal yang tidak pernah putus walau orang tersebut telah meninggal dunia. Anak yang shalih-shalihah pasti akan selalu mendoakan kedua orang tuanya.
Menarik Lainnya: 15 Cara Mendidik Anak Laki-Laki dengan Bijak
Hadits baginda Rasulullah Muhammad SAW wacana tiga amalan yang tidak pernah putus, salah satunya ialah anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya berikut ini:
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
Menikah bukan tujuan, tapi ialah sebuah jalan. Yang diinginkan dan yang menjadi tujuan ialah ridha Allah.
Maka katakan pada pasangan anda, "Sudikan engkau berjalan bersamaku di dunia ini untuk mendapat ridha Allah?"
Hal ini alasannya ialah banyaknya pasangan yang salah kaprah, sehingga memahami bahwa menikah ialah tujuan. Inilah ialah pemahaman yang salah sehingga bisa rentang dengan perpisahan, cerai jikalau menganggap pernikahan adakah tujuan.
Padahal tujuan gotong royong dari pernikahan ialah mendapat ridha Allah dan melahirkan keturunan yang shalih-shalihah.
Baca juga: 8 Butir Nasehat Pernikahan Alm Uje (Ustadz Jefri Al Buchori)
Demikianlah nasehat pernikahan yang kami uraikan dalam 7 poin yakni:
- Pasangan Adalah Tanda Kebesaran Allah SWT
- Pasangan untuk Mendatangkan Sakinah, Mawaddah dan Rahma
- Menikah, Jangan Semata Memandang alasannya ialah Fisiknya
- Menikah Menyempurnakan Setengah Iman
- Wanita ialah Makhluk Diciptakan dari Tulang Rusuk
- Menikah ialah Tanggung Jawab yang Besar
- Amal yang Tidak Putus: Anak yang Shalih
Semoga bermanfaat bagi kita semua untuk senantiasa saling mengingatkan satu sama lain.
