Cara Mengatasi Blue Green Algae (Bga)

Blue Green Algae (BGA) merupakan plankton yang termasuk pada kelompok cyanophyta (ganggang lendir). Karakteristik plankton dari kelompok ini yaitu :

  • selnya bersifat prokarion (tidak mempunyai inti sejati)
  • warna selnya hijau, biru, hitam
  • memiliki bentuk koloni (uniceluller) dan filament (benang)
  • di dalam plasma sel terdapat zat warna klorofil - a dan 2 macam kromoprotein yaitu fikosianin (kromoprotein biru) dan fikoeritrin (kromoprotein merah) yang larut dalam air
Pada BGA bentuk benang tersusun oleh satu baris sel tunggal yang disebut tricome. Tricome yang tertutup oleh sheet (sel pelindung) dinamakan filament. Pada BGA bentuk ini juga sering dijumpai sel khusus yang disebut heterocysta yang diduga bisa mengikat N bebas, sehingga konsentrasi N yang tinggi terhadap P merupakan salah satu penghambat pertumbuhan BGA.

Penyebab timbulnya BGA

Ada beberapa faktor yang menjadikan timbulnya BGA di tambak yaitu : 
  • konsentrasi materi organik yang tinggi
  • konsentrasi N dan P tinggi, CO2 rendah, pH tinggi
  • adanya stratifikasi suhu air tambak
  • BGA bisa mengeluarkan substansi yang menghambat pertumbuhan plankton lain sehingga gampang dominan
  • konsentrasi N/P ratio rendah dimana kesediaan N lebih terbatas dibanding P
  • salinitas rendah (< 10 ppt)
  • suhu air tambak tinggi (> 29 derajat Celcius)
Cara menanggulangi BGA

Secara garis besar ada tiga cara untuk menanggulangi BGA di tambak yaitu :

Pertama, secara mekanis, yaitu :
  • sipon yang rutin ( 2 x 2 jam per ahad ) untuk menjaga dasar tambak dari akumulasi materi organik
  • memaksimalkan pengoperasian kincir semoga pengadukan air berjalan dengan baik sehingga tidak terjadi stratifikasi suhu air tambak
  • menjaga pH semoga tidak melebihi 8,5
  • perlakuan saponin dengan takaran 10 - 23 ppm (50 - 125 kg per tambak)
  • pembuangan BGA secara manual dari tambak dengan cara diserok atau melalui terusan sipon
  • membuang air cuilan atas pada siang hari dan bila perlu bisa dengan penggantian air yang banyak (sekitar 60%) yang dilanjutkan dengan pemupukan urea.
Kedua, secara partial droping BGA. Prosedur ini bertujuan untuk mematikan sebagian BGA terutama yang ada di permukaan air tambak hingga pada kedalaman 30 cm, kemudian BGA yang telah mati tersebut dikeluarkan dari tambak. Teknik partial droping yaitu sebagai berikut :
  1. dilakukan pada cuaca cerah (siang hari)
  2. waktu perlakuan yang sempurna pukul 11.00 - 14.00
  3. bahan kimia dan takaran yang dipakai sebagai berikut : 
  • kaporit (chlorine) : 1 -1,5 ppm (6 - 9 kg /tambak), 
  • BKC : 0,5 - 1 ppm (3 - 6 liter per tambak), 
  • Hidrogen Peroksida (H2O2) : 5 - 10 ppm (25 - 50 liter per tamabak), 
  • tebar merata kaporit/BKC/H2O2 ke seluruh permukaan tambak, 
  • setelah 2-3 jam BGA akan mati dan terapung serta terakumaulasi di pinggir atau pojok tambak, 
  • keluarkan BGA yang mati atau terapung tersebut dari tambak dengan mengguanakan serok atau melalui terusan sipon, 
  • kalau BGA di tambak masih tinggi yang ditandai dengan pH yang masih tinggi, maka mekanisme partial droping boleh diulang lagi
Ketiga, pengaturan NP ratio yang bertujuan untuk mengetahui jumlah pupuk yang N (urea) yang diharapkan semoga NP ratio pada air tambak sesuai untuk pertumbuhan palnkton yang dikehendaki, dalam hal ini yaitu green algae (chlorophyta). Syarat pertumbuhan chlorophyta NP ratio = 20 : 1. Prosedur dan perhitungan penentuan jumlah pupuk urea untuk mendapat konsentrasi NP ratio 20 : 1 yaitu sebagai berikut :
  • ambil rujukan air tambak
  • analisa laboratorium untuk mengetahui konsentrasi NO2, NO3, TAN dan PO4
  • hitung konsentrasi N dalam NO2, NO3, dan TAN
  • hitung konsentrasi P dalam PO4
  • hitung konsentrasi N total
  • hitung kebutuhan pupuk urea semoga NP ratio 20 : 1
Contoh perhitungan :
Misal tambak A yang mengalami blooming BGA, dari hasil analisa laboratorium diperoleh konsentrasi NO2 = 0,02 ppm, NO3 = 0,01 ppm, TAN = 0,07 PPM dan PO4 = 0,15 ppm, sedangkan volume air tambak = 5000 m3.
maka :
Konsentrasi N di tambak A = konsentrasi N dalam NO2 + konsentrasi N dalam NO3 + konsentrasi N dalam TAN
= (0,02 x 14)/46 + (0,01 x 14)/62 + (0,07 x 14)/35 
= 0,0363 ppm
Konsentrasi P dalam PO4 = (0,15 x 31)/95 = 0,0489 ppm
Makara NP ratio = 0,0363 : 0,0489 atau 1 : 1,35

Kebutuhan pupuk urea semoga NP ratio menjadi 20 : 1
= konsentrasi P x 20 dikurangi konsentrasi N terukur
= (0,0489 x 20) - 0,0363
= 0,9417
Bila 1 ppm = 5 kg, maka kebutuhan urea = 0,9417 x 5 x 100 / 46 = 10,23 kg urea